Sejarah Yogyakarta menyimpan satu nama yang memicu perdebatan panjang: Tan Jin Sing, atau yang kemudian bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secodiningrat. Ia adalah bupati pertama dan satu-satunya dari kalangan etnis Tionghoa dalam struktur birokrasi Keraton Yogyakarta. Namun, di balik karier politiknya yang cemerlang di bawah perlindungan Inggris, ia memikul beban kebencian dari dua komunitas sekaligus: Jawa dan Tionghoa.
JEMBATAN INFORMASI BAGI PENYERBUAN GEGER SEPEHI
Puncak kebencian terhadap Tan Jin Sing bermula dari perannya dalam peristiwa Geger Sepehi (Juni 1812). Sebagai Kapitan Cina yang cerdas dan fasih berbagai bahasa, Tan Jin Sing menjadi informan kunci bagi Thomas Stamford Raffles. Ia memberikan peta detil kelemahan pertahanan Keraton Yogyakarta kepada tentara Inggris.
Informasi rahasia ini memudahkan pasukan Inggris menggulingkan Sri Sultan Hamengkubuwono II dan menjarah kekayaan keraton. Bagi rakyat Yogyakarta dan bangsawan Jawa, tindakan ini dianggap sebagai pengkhianatan terbesar terhadap kedaulatan tanah Jawa.
Sebagai imbalan atas jasanya, pada 1813, Raffles dan Sultan Hamengkubuwono III mengangkatnya menjadi bupati dengan gelar KRT Secodiningrat. Ia diberikan tanah jabatan (tanah perdikan) seluas 800 cacah di wilayah Lowano, Purworejo.
Namun, pengangkatan ini justru memicu gelombang permusuhan:
Kebencian Bangsawan Jawa: Mereka tidak terima seorang “non-Muslim” dan etnis Tionghoa menduduki jabatan tinggi yang secara tradisi hanya diperuntukkan bagi bangsawan Jawa.
Kebencian Komunitas Tionghoa: Warga Tionghoa saat itu merasa terancam karena tindakan Tan Jin Sing membuat posisi mereka di mata masyarakat Jawa menjadi sangat rentan. Mereka khawatir amuk massa akan menyasar seluruh etnis Tionghoa akibat perilaku politik satu individu.
PANTUN “CINA WURUNG, JAWA TANGGUNG”
Kehidupan Tan Jin Sing di akhir hayatnya menjadi sangat tragis. Ia terjebak dalam krisis identitas yang digambarkan masyarakat Yogyakarta melalui sebuah pantun satir: “Cina wurung, Londo durung, Jawa tanggung”—yang artinya: “Menjadi Cina tidak lagi, menjadi Belanda belum bisa, menjadi Jawa pun setengah matang”.
Ia dikucilkan secara sosial oleh komunitas Tionghoa karena dianggap telah meninggalkan akarnya dengan beralih ke gaya hidup bangsawan Jawa (termasuk masuk Islam demi jabatan), namun ia tetap tidak diterima sepenuhnya sebagai “orang Jawa” oleh lingkungan keraton.
PENEMU BOROBUDUR
Meski dibenci, sejarah mencatat jasa besar Tan Jin Sing yang sering kali diklaim oleh Raffles: penemuan kembali Candi Borobudur. Berdasarkan informasi dari mandornya, Tan Jin Sing-lah yang pertama kali melakukan pengamatan, membuat peta, dan melaporkan keberadaan candi yang tertimbun tersebut kepada Raffles pada 1814. Tanpa laporan detail darinya, pembersihan Borobudur oleh Hermanus Christiaan Cornelius mungkin tidak akan pernah terjadi.
Tan Jin Sing meninggal pada Mei 1831 dalam kondisi ekonomi yang merosot dan sosial yang terisolasi. Hingga hari ini, namanya tetap menjadi simbol kompleksitas hubungan etnis dan politik di masa transisi kolonial Jawa.
Sumber Referensi:
Cerita Tan Jin Sing, Bupati Yogyakarta Keturunan Tionghoa – Kompas.com.
Tan Jin Sing, Sang Bupati Yogyakarta – Historia.id.
Tan Jin Sing, Bupati Tionghoa yang Akhir Hayatnya Diolok-olok – Tirto.id.
Tan Jin Sing Bupati Yogyakarta jaman dulu penemu candi Borobudur – IKPLN.id.
Tidak ada komentar