Hampir 8 Tahun Berjalan, Tamberin DKM Attasyri Didik Ratusan Anak dan Ajak Kurangi Main Gadget

waktu baca 4 menit
Minggu, 27 Sep 2026 12:22 12 admin tangerangjasa

Kota Tangerang,– Upaya menumbuhkan budaya belajar dan mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget terus dilakukan masyarakat di lingkungan RW 03, Kelurahan Koang Jaya. Melalui kegiatan pendidikan anak yang telah berjalan selama bertahun-tahun, para pengurus dan relawan berupaya menyediakan ruang belajar gratis setiap akhir pekan.

Kegiatan tersebut kembali mendapat warna baru dengan digelarnya launching perdana Durian (Dunia Literasi Anak) yang berlangsung di lingkungan RW 03 Kelurahan Koang Jaya. Minggu, (27/09/2026).

Program pendidikan yang dikenal dengan nama Tamberin disebut telah berdiri sejak 18 Oktober 2018. Memasuki usia hampir delapan tahun, kegiatan tersebut tetap berjalan dengan mengandalkan semangat pengurus, relawan pengajar, DKM, serta dukungan masyarakat.

Rusmana, salah seorang pengurus, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari keprihatinan melihat anak-anak menghabiskan waktu libur, khususnya hari Minggu, dengan bermain dan menggunakan telepon seluler.

Menurutnya, waktu tersebut akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk belajar sekaligus menambah ilmu dan wawasan.

“Idenya dari saya. Saya melihat setiap hari Minggu, daripada mereka bermain atau main HP, lebih baik belajar untuk menambah ilmu dan wawasan anak-anak,” ujar Rusmana.

Berawal dari Belasan Anak

Perjalanan kegiatan pendidikan tersebut tidak langsung diikuti banyak peserta. Pada awalnya, kegiatan belajar hanya diikuti sekitar 10 hingga 20 anak.

Dengan ketekunan para pengurus dan relawan, jumlah peserta kemudian terus bertambah. Saat ini, jumlah anak yang mengikuti kegiatan disebut telah mencapai sekitar 80 hingga 100 orang.

Kegiatan belajar dilaksanakan setiap hari Minggu. Selain memberikan tambahan pengetahuan, program tersebut diarahkan untuk membangun pendidikan moral dan mental anak.

Pengurus berharap selama mengikuti kegiatan, anak-anak dapat meninggalkan gadget untuk sementara dan berinteraksi langsung dengan teman-teman serta para pengajar.

“Tujuan kami supaya mereka senang datang ke sini, bahkan merindukan hari Minggu untuk belajar. Di sini mereka bergembira dan tidak hanya melihat HP,” ungkap salah seorang pengelola kegiatan.

Program tersebut juga tidak dikhususkan bagi anak-anak di RW 03. Pengelola membuka kesempatan bagi anak dari RW 01, RW 02, RW 03, RW 04 hingga RW 05 untuk mengikuti kegiatan.

Bahkan, melalui bidang pendidikan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kegiatan serupa mulai dirintis di wilayah RW 05. Saat ini peserta di lokasi tersebut disebut masih sekitar tujuh anak.

Relawan Guru Mengajar Tanpa Dibayar

Di balik keberlangsungan program tersebut, pengurus mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah mencari tenaga pengajar yang bersedia mendonasikan waktu dan ilmunya tanpa menerima bayaran.

Namun, dalam sekitar lima bulan terakhir, sejumlah relawan mulai bergabung dan bersedia memberikan pendidikan kepada anak-anak secara sukarela.

“Akan tetapi, karena guru-guru ini gratis, tidak dibayar, kami sangat kesulitan mencari guru. Alhamdulillah, sekitar lima bulan terakhir ada guru-guru yang mau mendonasikan waktu dan ilmunya untuk anak-anak Tamberin,” katanya.

Keterbatasan lainnya menyangkut sarana dan prasarana. Pengurus menyebut kondisi tempat belajar sebelumnya masih sederhana dan membutuhkan perbaikan agar anak-anak dapat mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman.

Lokasi kegiatan memanfaatkan fasilitas di atas tanah wakaf DKM. Dukungan terhadap operasional kegiatan selama ini disebut banyak berasal dari DKM, swadaya masyarakat, serta warga yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak.

Berharap Dukungan Pemerintah

Pengurus berharap program pendidikan berbasis masyarakat tersebut mendapat perhatian lebih luas, termasuk dari pemerintah. Pasalnya, kegiatan telah berjalan hampir delapan tahun dan jumlah anak yang mengikuti pembelajaran terus berkembang.

Menurut pengurus, hingga kini dukungan untuk menjalankan kegiatan masih lebih banyak mengandalkan swadaya masyarakat dan para donatur sosial.

“Bantuan dari pemerintah belum ada. Sementara ini paling dari DKM, sumber daya masyarakat dan orang-orang yang berjiwa sosial untuk bagaimana pendidikan ini bisa terlaksana,” ujarnya.

Selain pendidikan akademik, pengelola menekankan pentingnya pembentukan karakter, moral dan mental anak. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi alternatif positif agar anak-anak memiliki lingkungan pergaulan dan pembelajaran yang sehat pada hari libur.

Launching Durian (Dunia Literasi Anak) pada Minggu (27/9/2026) pun diharapkan semakin memperkuat gerakan literasi dan pendidikan anak di lingkungan Kelurahan Koang Jaya.

Bagi para pengurus dan relawan, keberhasilan program tidak semata diukur dari banyaknya peserta. Hal terpenting adalah tumbuhnya kegembiraan anak untuk belajar, membaca, bersosialisasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap gadget.

Dengan semangat gotong royong masyarakat dan dukungan para relawan, kegiatan yang dirintis sejak 2018 tersebut diharapkan terus berkembang dan menjadi ruang belajar yang bermanfaat bagi anak-anak di wilayah Koang Jaya dan sekitarnya. (bule)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA