Meta Platforms, perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat yang membawahi Facebook, WhatsApp, dan Instagram, resmi mengakuisisi startup kecerdasan buatan (AI) asal China, Manus, dengan nilai transaksi mencapai US$2 miliar atau setara Rp33 triliun.
Manus dikenal sebagai salah satu startup AI unggulan China, sejajar dengan DeepSeek. Perusahaan ini mencuri perhatian global setelah meluncurkan agen AI serbaguna (general-purpose AI agent) yang mampu menangani berbagai tugas kompleks, mulai dari riset pasar, pengkodean, hingga analisis data.
Awalnya, Manus merupakan bagian dari startup Butterfly Effect atau Monica.im. Namun, seiring perkembangan produk dan teknologinya, Manus kemudian berdiri sebagai entitas independen. Tahun ini, namanya kian melambung setelah mengklaim performa chatbot-nya melampaui agen AI Deep Research milik OpenAI.
Dalam perjalanannya, Manus dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir seluruh karyawannya di Beijing pada Juli 2025. Sebulan sebelumnya, perusahaan telah memindahkan kantor pusatnya ke Singapura sebagai bagian dari strategi ekspansi global.
Meta, dalam pernyataan resminya, menyebut akuisisi tersebut bertujuan mempercepat inovasi AI untuk kebutuhan bisnis serta mengintegrasikan otomatisasi canggih ke dalam produk konsumen dan enterprise, termasuk pengembangan asisten Meta AI.
Langkah besar Meta ini langsung memantik respons dari pemerintah China. Kementerian Perdagangan China menyatakan akan melakukan penyelidikan terhadap akuisisi tersebut untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan pengendalian ekspor, regulasi impor dan ekspor teknologi, serta ketentuan investasi luar negeri.
“Pemerintah China secara konsisten mendukung perusahaan untuk menjalankan kerja sama teknologi internasional yang saling menguntungkan, selama sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku,” ujar juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yadong.
Manus sendiri kerap dijuluki sebagai “the next DeepSeek” karena kapabilitas teknologinya yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat global. Startup ini bahkan disebut telah membukukan pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue/ARR) lebih dari US$100 juta hanya dalam waktu delapan bulan sejak produk pertamanya diluncurkan.
Sejumlah analis menilai langkah China menyelidiki akuisisi ini menunjukkan bahwa teknologi agen AI canggih dipandang sebagai aset strategis nasional. AI Lead The Futurum Group, Nick Patience, memperkirakan bahwa penyelidikan tersebut kemungkinan besar akan memperpanjang proses persetujuan dan memunculkan syarat tertentu terkait penggunaan teknologi Manus.
“Pemblokiran total tampaknya kecil kemungkinannya. Namun, ancaman regulasi yang lebih ketat memberi Beijing posisi tawar yang kuat dalam akuisisi besar yang dipimpin perusahaan AS ini,” kata Patience.
Akuisisi Manus terjadi di tengah agresivitas Meta dalam memperkuat kapabilitas AI. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu diketahui telah menggelontorkan miliaran dolar untuk bersaing dengan pemain besar lain seperti OpenAI dan Google.
Pada Juni lalu, Meta juga menginvestasikan US$14,3 miliar untuk mengakuisisi 49 persen saham Scale AI, sekaligus merekrut pendiri dan CEO-nya, Alexandr Wang, ke jajaran pimpinan perusahaan. Selain itu, Meta mengumumkan pembelian startup AI wearable, Limitless, pada Desember.
Sejalan dengan strategi tersebut, Zuckerberg disebut telah mengalihkan fokus dari unit Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR) ke pengembangan generative AI (GenAI) yang lebih berorientasi produk, guna mempercepat pengembangan model AI Llama dan memperkuat posisi Meta di industri kecerdasan buatan global.**
(NK)
Tidak ada komentar